Sabtu, 15 Oktober 2011

Putri 34 Kilogram

Banyak orang tidak puas dengan apa yang telah dimilikinya saat ini, tanpa menyadari bahwa segala sesuatu yang berlebihan akan memberikan efek negatif…

Aku terdiam membaca sebuah berita dalam Koran pagi hari ini, “Amalia Hadi Sucipto, seorang gadis remaja SMP penderita anoreksia mencoba untuk bunuh diri dengan menyilet tangannya sendiri pada hari kamis pagi yang lalu.”
           
Kuperhatikan tubuhku yang hanya menyisakan tulang dan kulit serta terbalut baju rumah sakit berwarna biru dari pantulan cermin.
           
“Alia gendut kayak gajah, hahaha!” Sekelibat memori tentang dua tahun lalu tiba-tiba muncul di pikiranku. Saat itu, bobotku masih jauh di atas ideal. Bu Tari, guru Bahasa Indonesia sedang membahas tentang cita-cita di depan kelas tujuh B.

“oke, jadi adakah dari kalian yang sudah benar-benar yakin dengan cita-citanya?” Bu Tari menyelingkan sebuah pertanyaan sederhana di tengah-tengah penjelasannya.

“aku, Bu! Aku sudah tahu apa cita-citaku.” Aku mengangkat tangan dengan semangat sambil mengibas-ngibaskannya. Bu Tari tersenyum kemudian menunjuk kearah mejaku sebagai isyarat bahwa aku diperbolehkan untuk menjawab pertama. “ya, silahkan Alia. Apa cita-citamu?”

“aku mau jadi model bu!” jawabku mantab.

Keadaan hening sesaat. Seiring dengan berakhirnya jawabanku terdengar derai tawa dan ejekan meluncur dari mulut teman-teman satu kelas. Bahkan kulihat Bu Tari ikut tertawa kecil sambil menutupi mulutnya. “Alia, mau jadi model? Ga salah? Kamu kan gendut!” salah satu temanku melontarkan sebuah ejekan, diikuti dengan tawa yang semakin keras serta kata-kata menyakitkan dari anggota kelas yang lain. 

Pipiku merah menahan malu, air mata mulai mengalir. Sambil menutup muka aku berlari keluar kelas dan mengunci diri di toilet. Sejak hari itu, aku selalu menjadi bahan ejekan di kelas. Bahkan teman-teman dari kelas lain ikut mengejekku dengan sebutan ‘gajah bengkak.’

Karena tidak tahan dengan cacian dari teman-teman yang terus menekan batinku, terlebih ketika aku mendapatkan selebaran tentang pemilihan putri kecantikan di sekolah. Aku ingin memenangkan kontes tersebut dan membuat semua teman yang mengejekku menyesal. Akhirnya kubulatkan tekad untuk melakukan diet ketat selama satu bulan libur kenaikan kelas.
           
Kumuntahkan semua makanan yang bahkan belum sempat diterima lambungku. Uang jajan dari mama kubelikan suplemen pelangsing serta obat pencahar. Hal itu aku lakukan secara rutin. Aku kecanduan. Sama seperti kecanduan narkoba, dengan efek yang juga hampir sama nantinya.

“Yes, empat puluh delapan!” hatiku berseru pelan melihat bobotku telah turun lebih dari setengah, hanya dalam waktu satu bulan.
           
Segera kugendong tas dan berlari masuk ke mobil dengan riang, papa hanya tersenyum memperhatikan bidadarinya yang telah ‘menciut’ lewat kaca mobil. Aku siap menghadapi hari pertama masuk sekolah.

***

 “Wah, anak baru ya? Namanya siapa?” sapaan pertama muncul dari Kirana, teman sekelasku tahun lalu yang tidak lagi mengenali wajahku.

“Aku Alia, panjangnya Amalia Hadi Sucipto. kelas delapan G. Hobiku membaca dan membuat puisi, panggilanku dulu adalah gajah bengkak. Tahun lalu aku ada di kelas tujuh B denganmu, masa kau sudah lupa?” Aku menjelaskan kembali tentang diriku secara panjang lebar, diikuti dengan tatapan tidak percaya dari Kirana.

Kirana mencubit pipinya dengan keras. “aduh! Sakit ya Li, bukan mimpi ternyata, hehehe.” Ia tertawa kemudian kembali terdiam, tangannya menepuk-nepuk pipiku. “kamu berubah banget! Jadi cantik. Sekarang panggilanmu berubah jadi neng geulis nih.”  

“Hahaha.” Aku tertawa ringan sambil melangkah menuju kelas baruku. Ternyata tidak hanya Kirana yang terkejut dengan penampilanku sekarang, semua teman bahkan guru berdecak kagum saat aku menyapa mereka sambil tersenyum.

Sejenak pandanganku mengabur, seluruh sudut sekolah terlihat dipenuhi oleh orang-orang berpakaian resmi. Aku berjalan di tengah-tengah mereka dengan sebuah karpet merah panjang yang halus terbentang di bawah kakiku. Semua orang mengelu-elukan namaku. Beberapa dari mereka berteriak histeris kegirangan.

“Selamat pagi anak-anak! Ayo kita mulai pelajaran.” Lamunanku terpecah, semuanya mengabur dan berubah menjadi normal kembali. Bu Silvia, guru yang terkenal galak di sekolah akan segera memulai pelajaran.

Aku tersenyum mengingat seluruh pujian dari teman-teman dan guru pagi itu. Rasanya aku telah terbang ke langit ketujuh dan dihempaskan di awan seputih kapas yang empuk.

Begitu semua cacian berubah menjadi pujian otakku semakin dipenuhi oleh usaha untuk bertambah langsing lagi, kutambah dosis obat dan jadwal muntahku. Aku sudah tidak sabar untuk melihat nama Amalia Hadi Sucipto dinobatkan menjadi pemenang putri kecantikan tahun ini, inilah kesempatanku satu-satunya.

***
            Hal yang kulakukan setiap hari hanyalah memandang timbangan. Aku sama sekali tidak peduli dengan pelajaran. Sudah dapat dipastikan nilaiku menurun drastis dan bahkan berada di ujung tanduk. Aku hampir tidak naik kelas tahun itu. Lagipula aku sudah tidak perlu belajar karena aku telah berubah sekarang. Walaupun tidak naik kelas, aku bisa saja berhenti sekolah dan memulai karirku sebagai model ternama. Semuanya menjadi sangat mudah sekarang.

Akhirnya hari yang kutunggu-tunggu pun tiba, sebuah langkah awal kepopuleranku. Kelihatannya aku terlalu bersemangat hari ini, sampai-sampai makan pagi yang disiapkan mama tidak kumakan.

Tiba-tiba aku merasa lemas dan pusing. Ah, mungkin ini gejala masuk angin, pikirku. Tetapi setelah langkah ketiga… bruk! Aku terjatuh. Sesaat kemudian semuanya menjadi gelap. Ketika terbangun, aku sudah berada di atas tempat tidur, atau tepatnya di rumah sakit. Aku tidak boleh disini terus, aku harus ke sekolah sekarang.

“Mama, aku mau ke sekolah…” pintaku kepada mama sambil menggeliat malas di atas tempat tidur yang menopang tubuhku. Pasalnya hari ini adalah hari audisi untuk pemilihan putri kecantikan, dan tentu saja aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku tidak peduli dengan perutku yang masih terasa sakit karena kosong.

            “Kata dokter kamu belum boleh pergi sayang, kamu masih perlu istirahat, Nak.” Mama berbisik lirih. Aku tau, mama sebenarnya tidak tega melihatku kecewa.

            “Yah mama, tapi nanti namaku didiskualifikasi.” Jawabku sambil menahan air mata.

Ternyata keadaan tetap tak memihak. Walaupun telah dibujuk berkali-kali hati mama tak kunjung luluh. Aku dipaksa untuk tetap tinggal di rumah sakit sampai dokter mengatakan bahwa aku boleh pulang. Secara otomatis aku tidak bisa mengikuti kontes tersebut, dan alhasil namaku didiskualifikasi.

Mama jahat! Ia telah menghancurkan semua mimpiku. Aku mogok makan selama berhari-hari. Kutumpahkan berpiring-piring makanan yang mama siapkan untukku. Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah kekecewaan, sampai-sampai aku tidak menyadari kalau tubuhku sudah semakin minim akan gizi.

***
 “Selamat Siang, Alia. Aku bawa makanan loh buat kamu.” Sebuah suara yang tidak asing lagi di telingaku memecah keheningan. Semua ingatanku tentang masa lalu seketika pergi. Aku berbalik sambil kembali duduk di samping tempat tidur.

“Loh, Bintang? tumben banget kamu dateng ke sini. Biasanya sombong. Emang mau ngapain?.”

“hehe, iya nih Li. Aku sebenernya Cuma pengen nanya soal berita di Koran tadi pagi…”

“Oh, jadi kamu dateng kesini cuma buat ngajarin aku kayak orang-orang lain ya? Aku udah ga butuh nasehat, Tang. Aku udah muak!”

Sejenak setelah aku memakinya, Bintang keluar dengan wajah kecewa sekaligus bingung.

***
            Sepeninggal Bintang pikiranku kembali melayang-layang ke masa lalu, saat aku dijauhi teman-teman lagi karena mengidap anoreksia. Di saat semuanya menjauh, Bintang yang sempat kulupakan keberadaannya mengucapkan sebuah janji yang masih terus tergiang-ngiang dalam telingaku. “kamu boleh ngelupain aku. Tapi waktu semuanya, bahkan dunia sekalipun menjauh, aku pasti akan selalu kembali.”

Dulu aku pernah jatuh cinta saat pertama kali mengenal Bintang, dan kini getaran yang dulu pernah kurasakan kembali muncul. “aah.. Alia, kamu mikir apa sih? Ga usah banyak mimpi, deh.” Gumamku sambil mencubit kulit pipi kurusku yang kering, hampir bersisik.

Bintang memang baik pada semua orang, termasuk aku. Tidak sepantasnya ia sebaik itu kepadaku, karena hal itu hanya akan semakin menambah perih luka di hati.

***
            Untuk kedua kalinya pintu kamarku dibuka, kini yang masuk adalah dua orang suster bertubuh sedang. Salah satunya memegang sebuah papan dengan kertas putih bergaris. Ia terlihat sedang sibuk mencatat informasi di dalam label biodata yang tertempel di ujung tempat tidur.

“Siang, Alia. Kamu tolong kembali tidur ya. Hari ini kan jadwal pengecekkan lambungmu. Mudah-mudahan hasilnya membaik ya.” Salah satu dari mereka menyapaku kemudian mendorong tempat tidurku ke sebuah ruangan minim pencahayaan dan berbau steril. Hari ini adalah jadwal pengecekan lambung yang sebenarnya sudah kujalani ratusan kali.

Sekali lagi aku terbangun di atas tempat tidur lipat rumah sakit. Tampak kakak laki-lakiku sedang duduk di kursi kayu yang diletakkan di samping tempat tidur dengan sebuah kotak merah jambu berukuran sedang di tangannya, Ia baru sempat kembali dari Amerika karena jadwal kuliahnya yang padat.

“Maafin kakak karena enggak pernah ngasih support ke kamu. Selama ini kakak cuma diem aja.”

Inilah pertama kalinya kakak mau berbicara lagi padaku. Setelah pertengkaran hebat beberapa tahun yang lalu kami mulai berhenti berkomunikasi, sampai suatu saat kakak memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Amerika.

Aku senang kakak pulang hanya karena mengkhawatirkanku. Setelah berbincang-bincang sebentar ia memintaku membuka bingkisan darinya. Ternyata isi kotak merah jambu yang sedari tadi digenggamnya adalah sepotong rok berwarna putih bersih dengan ukuran XXL, ukuran yang dulu pernah pas menggantung di pinggulku.

“Kakak sedih liat kamu begini Li, kakak kangen kamu yang dulu. Dulu kamu lucu, chubby dan ngegemesin.” Kakak menjelaskan maksud dari pemberiannya padaku yang menatap bingung kearahnya. 

“Jujur kak, Alia sendiri juga lebih milih jadi kayak dulu aja daripada jadi tengkorak berjalan kayak gini, hehehe.”

Aku mencoba sedikit bercanda untuk mencairkan suasana. Tapi apa daya, aku malah merasakan hangatnya bulir-bulir kesedihan di pipiku. Aku menangis.

“Kak, Alia nyesel. Aku enggak mau gini terus. Aku mau sembuh!”

“Loh? Bagus dong Li kalau kamu nyesel. Jadi kamu punya semangat buat sembuh dan ngejar cita-cita kamu.”

“Benar juga ya kak, kalau aku sempat mengalaminya aku pasti akan berhenti dan berusaha untuk tidak mengulangi semua kesalahanku, sehingga dapat terhindar dari penyakit ini. Aku kan sudah pernah merasakan bagaimana penderitaan yang dihasilkan oleh anoreksia.” Renungku setelah mendengar kata-kata kakak barusan.

***
            Kemudian kakak memintaku untuk memperbolehkan Bintang masuk. Oh tidak! Aku telah melupakan Bintang yang tadi sempat kuusir keluar karena moodku sedang tidak mendukung.
           
Belum sempat aku menjawab, Bintang telah masuk dengan beberapa teman yang dulu pernah menjauhiku. Mereka membawa kue tar coklat besar dengan sebuah ucapan yang diukir dengan krim berwarna ungu diatasnya, “Semoga cepat sembuh, Alia. Jangan pernah menyerah. Fighting!” 

            Aku tidak bisa memikirkan apa yang harus kukatakan. Aku terlalu bahagia. Segera kupeluk mereka satu persatu sambil mengucapkan terimakasih, ternyata masih ada banyak orang yang peduli dengan keadaanku saat ini.

            Tasha, Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah MP3 player dari dalam tasnya. Kemudian memutarkan lagu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Katanya kemudian, “lagu ini judulnya sama dengan namamu, Amalia. Kita bikin khusus buat kamu. Kita mau liat kamu senyum.”

            Bintang mengambil gitar tua peninggalan almarhum ayahnya dan mulai mengikuti alunan lagu ciptaan mereka. perlahan aku ikut berdendang mengikuti. Semua rasa sakit dan maluku perlahan menghilang terbawa alunan nada musik. Muncul sebuah perasaan yang tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Sekarang aku merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.

“Li, kan kamu udah lama enggak keluar kamar rumah sakit. Kita jalan-jalan bareng yuk, mumpung masih belum terlalu gelap.” Ternyata rencana belum selesai, aku akan bersenang-senang dengan mereka sepanjang malam.

Kembali aku tercengang ketika melihat tempat jalan-jalan yang mereka maksudkan tadi. Sebuah tempat yang dipenuhi canda tawa dan senyum lugu anak-anak bertubuh mungil, panti asuhan kecil yang terletak di balik meriahnya dunia malam kota Jakarta.

Seorang anak perempuan berambut sebahu menggandeng tanganku, ia mengajakku untuk berkumpul bersama teman-temannya yang lain, beberapa dari mereka sedang membuat tugas. Kulayangkan pandanganku kepada kondisi fisik mereka. Beberapa diantaranya tampak memakai tongkat atau kursi roda, dan bahkan ada yang sedang membentur-benturkan kepalanya di dinding.

“semua anak-anak di tempat ini dalam keadaan cacat, ada yang dari lahir dan ada juga yang akibat dari kecelakaan atau penyakit. Begitu pula dengan Sita, anak yang tadi menggandengmu. Ia buta sejak lahir.” Bintang muncul secara tiba-tiba di sebelahku yang setengah melamun. Seakan bisa membaca pikiran, ia menjelaskan semua hal yang bahkan belum sempat kutanyakan.

“Iya Tang, miris banget. Ternyata masih banyak orang-orang yang lebih menderita ya di luar sini.”

“Betul banget, coba buat lebih menghargai hidup mulai sekarang. Jangan gampang putus asa dan ngelakuin hal-hal bodoh.” Aku yakin sekali ia sedang menyinggung soal berita tentang aku di Koran tadi pagi, tapi apa yang dikatakan Bintang adalah benar adanya.

Berada di sini membuatku merasa diterima. Tidak ada yang mempersoalkan tentang tubuhku ini. Semua memiliki kekurangan dan mereka mensyukurinya. Aku banyak belajar dari mereka hari ini, belajar untuk selalu tersenyum dan bersyukur walau dalam keadaan sesusah apapun.

Untuk memanfaatkan sisa waktu yang ada aku menggunakannya untuk berbagi pengalaman, tentang bagaimana rasanya saat mengalami kegagalan dan sulitnya untuk bangkit dari keadaan tersebut. Aku juga menceritakan tentang penyakitku kepada mereka, beberapa bergidik ngeri, dan beberapa menatapku dengan wajah peduli.

***

“Memangnya kalian sudah sering berkunjung kesini sebelumnya?” Tanyaku kepada teman-teman setelah selesai bercerita.

“Iya sih Li, kita memang udah beberapa kali berkunjung. Biasanya kita bawa bingkisan untuk anak-anak disini. Kita seneng soalnya mereka semua senang saat menerima kunjungan, pengurusnya juga ramah.” Jawab Tasha yang sedang menggendong seorang anak berbibir sumbing.

“Pernah sih beberapa kali kita mikir buat ajak kamu kesini, siapa tau bisa membuatmu lebih semangat dan merasa dihargai. Akhirnya hal itu tercapai juga.” Bintang menyambung jawaban dari Tasha.

“Oh, berarti usaha kalian ga sia-sia dong? Aku ngerasa kalau kunjungan ini betul-betul berguna banget. Terimakasih ya teman-teman. Hari ini adalah hari yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Mulai dari saat kalian datang secara tiba-tiba ke kamarku, menyanyikan lagu yang kalian ciptain sendiri, dan terakhir kalian membawaku ke tempat ini. Tetapi yang terpenting, kalian telah berhasil membuatku menyadari bahwa hidupku tidak seburuk yang selama ini aku pikirkan.”

“Iya Li, makasih juga kamu udah menghargai semua usaha kita. Ternyata rencana yang kita buat ga sia-sia dan bisa kamu jadikan sebagai motivasi untuk bangkit dari kegagalan.” Mereka semua tersenyum penuh arti, memperlihatkan sinar ketulusan yang tercermin dari wajah mereka.

Momen yang mereka berikan khusus untukku hari ini telah berhasil mengrubah pandanganku tentang hidup. Hidup bukan hanya masalah bentuk fisik, banyak aspek-aspek kehidupan lain yang lebih penting dari hal tersebut.

Mulai sekarang aku berjanji akan menjadi lebih memperhatikan keadaan sekitar dan tidak berpikiran pendek lagi. Aku bertekad untuk sembuh suatu hari nanti, dan aku yakin aku bisa. Karena keluarga, dan teman-teman akan selalu ada untukku, serta Bintang yang akan selalu menepati janjinya.

“kamu boleh ngelupain aku. Tapi waktu semuanya, bahkan dunia sekalipun menjauh, aku pasti akan selalu kembali.”

***
            Hari demi hari kulalui dengan dikelilingi orang-orang yang kukasihi. Kicauan burung dan sinar matahari pagi menjadi lebih indah, makanan rumah sakit yang tawar terasa seperti makan steak di hotel bintang lima. Keadaanku kian membaik, sudah lama aku ingin keluar dari belenggu kesedihan dan merasakan kebahagiaan seperti ini.

Beratku mulai menanjak naik sedikit-demi sedikit, aku tersenyum puas melihat bobotku telah naik satu kilogram lagi. Kini jarum timbanganku menunjuk ke angka 34.

“Alia, kamu lihat ini!” Bintang tergopoh-gopoh menghampiriku yang tengah duduk santai di sofa sambil menyeruput teh manis.

Kuangkat tinggi-tinggi selebaran yang dibawa Bintang, “Kontes putri kecantikan tingkat nasional?”

Sekali lagi Bintang mengatakan hal yang tidak akan pernah aku bisa lupakan…

“Kalau kamu sudah sembuh, aku yakin kamu pasti bisa menjadi pemenang lomba ini. Tapi sekarang dan selamanya, kamu adalah putri tercantik di hatiku. Putri 34 kilogram.” 

Percayalah, Aku Mencintaimu

Kasih ibu, terhadap beta. Tak terhingga sepanjang masa… PLAK! Tamparan kedua melayang di pipi kananku.
Hanya memberi, tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia… Kakiku  melemah, tak sanggup lagi menopang. Aku jatuh tersungkur dengan tubuh penuh bekas pukulan yang mulai membiru.
            “ampun ma…” Ucapku terbata, menahan sakit di sekujur tubuhnya.
            “nggak ada ampun ampun! Anak nakal kamu ya! Kamu seharusnya nggak lahir tau gak!” Sang ibu memekik nyaring memecah keheningan malam.
            Hal seperti ini hampir selalu terjadi di dalam rumah kecil kami yang sering disebut-sebut orang kampung sebagai ‘gubuk derita.’
“Sudah rumahnya kecil, jelek, berantakan, ibunya tidak punya hati lagi. Lengkap sekali penderitaannya.” Itulah hal yang akan dikatakan oleh tetangga-tetangga di sekitar ketika ditanya tentang rumahku.
Aku melangkah tertatih ke dalam kamar. Sambil menyeka luka-luka yang ada di tubuh aku berbaring diatas kasur tipis beralaskan lantai bambu. Malam ini hujan turun lagi, butiran-butiran bening itu menjatuhi tubuhku lewat celah-celah lebar di genteng yang tak pernah dibetulkan. Bersama dengan derasnya hujan aku menangis pilu menahan segala kesakitan batin dan fisik.

***
            Byur… Air dingin bagaikan es membangunkanku. Dengan menggigil aku melirik kearah jam di samping tempat tidur, masih pukul 3 pagi.
            “kenapa, ma?” tanyaku ragu kepada mama yang sedang berdiri di samping tempat tidurku.
            “Sekarang juga kamu bangun dan pergi warung, belikan mama rokok!” Ia mengeluarkan uang seribuan dari sakunya kemudian dilemparkan ke wajahku.
            “tapi, ma. Sekarang kan sudah malam. Warung-warung sudah tutup semua.”
            “heh! Jangan membantah kamu. Ayo cepat pergi atau kamu tidak dapat makan seharian!”
            Akhirnya aku bangun dan segera beranjak keluar rumah untuk mencari warung yang masih buka. “aduh.” Sebuah paku menancap kakiku yang menapak tanpa alas kaki. Sambil meringis aku berusaha untuk mencabut paku itu. Sakitnya tak sesakit ketika disiksa mama.
            “hey, Arisa. Sedang apa malam-malam di luar? Diusir mamamu yang sadis dan bodoh itu lagi ya?” Seorang ibu gendut yang sering kulihat sedang menjemur pakaian di samping rumah datang menghampiriku yang terduduk di pinggir jalan.
            Hatiku berubah panas ketika mendengar ejekan dari wanita tadi terhadap mama. “Mama nggak bodoh! Mama nggak sadis! Ibu tolong jangan sembarangan bicara ya. Aku tahu ia melakukan itu karena ia ingin menjadikanku anak yang kuat!” makiku kepadanya. Bagaimanapun juga aku akan tetap menyayangi mama.
            “huh, ibu dan anak sama saja. Sama-sama bodoh.” Cibirnya sambil berlalu meninggalkanku.
            Setelah satu kembali berjalan akupun menemukan warung yang masih buka. Segera aku mengambil 3 batang rokok dan menyodorkan seribuan yang tadi diberikan mama. Kemudian aku berlari pulang mengejar waktu.
            Sesampainya di rumah, seperti yang sudah kuduga mama kembali melayangkan tamparan di pipiku. “lama sekali kau pulang? Sudah 2 jam ini. dasar anak haram!”
            “kan sudah kubilang, jarang ada warung yang buka waktu dini hari! Lagipula aku sudah membawa rokoknya kan.” balasku, kesabaranku mulai hilang.
            “berani kamu ya sekarang. Dasar anak kurang ajar!” sedetik kemudian tangan mama meraih kepalaku dan membenturkannya ke tembok, darah segar mengucur dari dahiku.
***
            “maafkan mama Arisa.” Tubuh ringkih mama terbaring di atas ranjang rumah sakit. Entah sudah berapa ratus kali ia mengatakan hal ini.
            Aku menggenggam erat tangan dan mencium pipinya. Sosok yang dulu begitu menakutkan bagiku kini terbaring lemah di rumah sakit. “mama sa.. yang.. Kamu.” Ucapnya terbata sambil memandang kosong kearahku.
            Mama mengidap penyakit kanker paru-paru akut. Sudah seminggu ini ia terbaring lemas di rumah sakit. Aku memandang pilu padanya, karena bagaimanapun juga aku akan selalu mencintainya. Sejujurnya, aku tidak ingin ia bernasib sama dengan papa yang meninggal 12 tahun lalu karena penyakit mengundang maut yang sama.
            “Arisa juga sayang mama, sayang banget.” Balasku di sela-sela tangis.
            “Ris, kamu mau antarkan mama ke suatu tempat sebelum mama meninggal?” pinta mama kepadaku.
            “tempat apa itu ma?”
***
            Aku terpesona melihat tempat yang ditunjukkan oleh mama. Di depan kami terlihat sebuah rumah merah dengan gaya minimalis yang sederhana namun terlihat luar biasa.
            “ini rumah tempat tinggal kita sebelum papa meninggal. Kau pasti sudah lupa. Setelah papa, mama menjadi frustasi dijerat hutang-hutang papa. Akhirnya mama menjual segalanya sekaligus rumah ini ke bank. Akhirnya mama terpaksa hidup miskin dan mulai mabuk-mabukkan.” Mata mama menerawang kearah rumah mewah itu. Terlihat kerinduan yang mendalam di matanya.
            Hanya satu pintaku, tuk menatap langit biru. Dalam dekap seorang ibu…
            Sore itu, aku memeluk mama untuk yang pertama kalinya di bawah sinar matahari yang mengundang senyuman. Mama berbalik dan melihat ke arahku, matanya memancarkan sinar kasih sayang yang belum pernah kulihat selama beberapa tahun belakangan.
            Bila semua ini, hanya sebuah mimpi. Ku kan terus berharap tuk tak pernah terbangun…
 “maaf, Arisa. Aku mencintaimu, nak.”
***
15 menit kemudian, terdengar suara sirene mobil ambulans. Tubuh mama yang terkulai lemas segera dilarikan ke rumah sakit. Dengan cemas kugenggam tangannya yang mulai dingin seerat mungkin, kuucapkan doa-doa permohonan pada Tuhan sepanjang perjalanan.
Perlahan isakkannya terhenti, genggaman tanganku mulai melonggar. Dengan sisa napas terakhirnya, ia mengatakan hal itu sekali lagi. “aku mencintaimu, Arisa. Percayalah.”
Ngiung… ngiung… ngiung… suara sirene terdengar semakin keras menelan keheningan malam.
Tak ada lagi siksaan, tak ada lagi keresahan. Yang tertinggal hanyalah kerinduan dan harapan bahwa ini semua hanyalah sebuah mimpi. Ketika aku terbangun nanti semuanya akan kembali seperti semula, aku akan kembali merasakan siraman air dingin dan pukulan-pukulan mama. Harus. Karena sekarang, aku merindukan dirinya.
***
Disinilah aku, bersama dengan suami dan kedua anak kembarku yang masih balita. Sambil memejamkan mata aku berjanji di depan batu nisan kedua orangtuaku untuk mencintai keluargaku sepenuh hati, apapun yang terjadi.
“selamat siang, ma. Pa. Matahari kembali bersinar cerah pagi ini. Aku datang berkunjung sambil membawa suami dan kedua anakku. Lihatlah anak-anakku memiliki mata yang persis dengan mata indah mama.” Aku berbicara pada kedua jiwa orangtuaku yang kuyakini masih setia mendampingiku.
“mama, liat deh!” kedua anakku lari tergopoh-gopoh dan menunjuk kearah langit yang cerah.
Sambil menyipitkan mata aku melihat apa yang mereka tunjuk. Segumpal awan putih membentuk dengan jelas 2 sosok manusia. Satu besar dan satu kecil, satu ibu dan seorang anak. Mereka terlihat sedang berpelukan penuh kasih sayang.
“jiwa mama sedang memeluk kamu tuh.” Suamiku mengembangkan senyumnya kearahku, kemudian melayangkan pandangannya ke langit. “mama, papa. Aku janji untuk selalu menjaga dan mendampingi Arisa. Apapun yang terjadi.” Serunya kemudian memelukku erat.
Setelah puas kami berempat pergi ke rumah tua tempat kami akan tinggal. Sebuah rumah besar minimalis dengan cat berwarna merah memikat mata siapapun yang melihatnya. Rumah penuh kenangan yang kami beli kembali dari bank.
“waah.. bagus banget rumah baru kita.” Dengan kompak kedua anakku tertawa senang.
“ayo masuk!” suamiku dengan semangat mengeluarkan kunci rumah dari dalam jaketnya.
“tunggu.” Mataku menatap sebuah amplop merah muda yang tergeletak di jalan. Aku masih ingat betul, itu adalah tempat aku dan mama berdiri 2 tahun yang lalu.
Sejurus aku segera berlari dan mengambil surat tersebut. Di dalamnya tersimpan sebuah kalung bertuliskan namaku serta surat yang sudah lusuh.
Arisa, maaf. Selama ini mama telah menjadi seorang ibu yang tidak memiliki hati. Semua itu karena mama putus asa harus mencari makan seorang diri. Awalnya mama selalu menumpuk segala tekanan di dalam hati, sampai suatu hari mama menemukan cara untuk menghilangkan stress. Yaitu dengan menyiksamu, darah dan daging mama sendiri. Kau lihat sendiri kan, mama begitu bodoh. Mungkin menangisi mama saja tidak akan kau lakukan, karena mama memang tidak pantas ditangisi. Biarkan mama mati secepatnya, dan kamu pergilah mencari seorang suami yang baik. Jadilah juga seorang mama yang baik bagi anak-anakmu, tidak seperti mamamu yang bengis dan kejam ini. Ini kalung untukmu, maaf jika tidak mahal dan hanya terbuat dari kayu yang mama ukir sendiri ketika kamu berjualan kue dan mama terbaring di rumah sakit. Hanya kalung ini satu-satunya yang dapat mama berikan untukmu selain ribuan kata maaf dan aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu selamanya, percayalah.
Aku tertegun membaca surat dari mama. Terlihat beberapa bercak air mata yang telah mengering. “aku sayang mama! Aku cinta mama! Selamanya!” aku berseru, agar langit dan burung-burung di udara menjadi saksi janjiku.
“ayo, Arisa. Kita masuk ke rumah.” Suamiku menepuk pundakku lembut dari belakang.
Aku tersenyum melihat kedua anakku yang sedang berlarian kearah pintu rumah. “ayo.” Balasku.
Rumah bercat merah ini akan merajut kisah hidupku selanjutnya. Kisah yang mungkin lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya. Namun kisah apapun yang terjadi, rumah ini sempat menyimpan sebagian kenangan indah masa kecilku.
Bagaimana dengan ‘gubuk deritaku’? Aku akan berusaha untuk melupakan tempat itu, demi tak menumbuhkan benih-benih kebencian pada mama dalam hatiku.
“Arisa, aku mencintaimu.” Aku terkejut, terdengar sayup-sayup suara mama di tengah semilir angin dan daun-daun yang berguguran.
Tapi biarlah, ini hanya imajinasi atau bukan aku tak peduli. Karena yang terpenting…
“percayalah, ma. Aku juga mencintaimu. Selamanya.” 

Selasa, 19 Juli 2011

Curhat Seorang Pecandu Narkoba

Di sini kududuk termenung.
Diatas lantai dingin yang mencekam.
Dibalik jeruji besi  sebagai tabir penghalang.
Kini kuhanya dapat meratapi.
Kuhanya dapat menyesal.
Atas apa yang telah kuperbuat di masa lalu.

Sejenak pikiranku melayang.
Aku bagaikan kembali ke masa lalu.
Kulihat kehidupanku dulu.
Bagaikan balada yang sungguh menyedihkan.
Dan aku bertanya dalam hati.
Mengapa aku sehina ini?

Kuingat hari itu.
Saat terjadinya sebuah razia.
Yang membuatku berada di sini sekarang.
Mereka menemukan barang haram itu.
Di tengah hitamnya cakrawala.
Aku sampai di tempat ini.


Tempat yang penuh kesedihan.
Tempat munculnya penyesalan yang terlambat.
Aku tidak ingin berada disini.
Aku ingin pulang.
aku ingin berkumpul bersama keluargaku kembali.

Sayang penyesalanku terlambat.
Entah kapan aku dapat keluar dari tempat ini.
Kudengar suara tangis ibuku.
Dan sakitnya tamparan ayah masih terasa di pipiku.
Maafkan aku Ibu, maafkan aku ayah.
Aku telah mengecewakan kalian .
Aku tidak dapat menjadi  seperti yang kalian inginkan.


Gigiku berderak keras.
membayangkan penderitaan yang akan kualami.
Ingin rasanya kembali ke masa lalu.
Ingin rasanya memperbaiki semua ini.
Tapi aku hanya dapat duduk disini.
Dan menyesali kesalahanku.

SAY NO TO DRUGS! Sebelum semuanya terlambat.

Wendie (novel introduction)

Gue mau coba bikin novel, ini baru jadi introduction tokoh2nya

Pada suatu siang di sebuah kamar dalam sebuah rumah di sebuah perumahan terlihatlah sebuah benda yang menyerupai sarang burung sedang diam di depan sebuah benda kotak yang berwarna hitam. Ternyata benda yang mirip dengan sarang burung tadi tidak lain dan tidak bukan, mungkin juga tidak sama atau tidak iya adalah rambut seorang perempuan bernama Wendie yang sedang melotot di depan laptop sang ayah dan sedang sibuk mengetik di blog kesayangannya yang berjudul "Gue Wendie" Ya, sebuah nama blog yang sesuai di mata anak gaul jaman sekarang.

"Dear my blog that is very goblog, my pren and my guys. W.E.N.D.I.E kembali lagi di hadapan kalian dengan muka keren seperti biasa" ucap Wendie bak seorang penyiar radio pagi sambil terus sibuk mengetik.

Tanpa sadar mamanya telah berteriak-teriak sedari tadi sampai tenggorokannya kering, lidahnya putus, dan make upnya luntur semua. Eh, enggak deh. Capek aja teriak-teriak karena daritadi memanggil anak tercintanya yang lagi seru sendiri sampai budek.

"WENDIE TURUN NANTI JATAHMU MAMA KASIHIN ANDI LOH!"

Mendengar jatahnya akan diberikan pada Andi, adiknya tersayang tapi tidak sesayang itu untuk dibagi makanan Wendie langsung berlari secepat kilat bagai Valentino Rossi memacu sepeda motornya.

"bused dah, kakak tau kalau kakak ga rela bagi jatah makanan ke Andi. Tapi kalau kayak gitu nanti rumahnya goyang, terus kacanya pecah, terus roboh, terus.. terus.. huaaa, Andi gamau tinggal di jalanan!"

"Awas aja kamu Ndi, jangan berani-berani ambil jatah kakak. hmph."

"Sudah, kalian ini berantem terus kerjaannya, SEKARANG JUGA BERHENTI DAN PERGI SEKOLAH!!!" omel sang mama dengan khas senyum di awalnya, dan segera tanpa basa basi mereka segera lari keluar rumah menuju sekolah sambil berdoa mama mereka belum berubah jadi drakula.

"widiih, manyun aja muka lu. Eh by the way gue laper nih." ucap seorang teman Wendie pemilik hidung, eh rambut keriting bernama Kiko. Yang dibalas dengan tatapan membunuh dari Wendie. "Enak aja, dikira gue restoran berjalan apa?" balas Wendie sambil meneguk minuman berlogo so*ro yang baru dibelinya.

Kiko ini sahabat sejatinya Wendie. Kadang-kadang sih lebih mirip babu daripada sahabat, tapi dianya happy-happy aja tuh.

"yaudah Wen, tapi kenapa manyun mulu sih?"

Wendie yang sedang bete karena keadaan pagi itu terus berjalan tanpa memedulikan sahabatnya. Tiba-tiba.. "brukk" buku-buku yang dibawa Wendie bertebaran di lantai. Seseorang menabraknya. Wendie segera berjongkok untuk mengumpulkan buku-bukunya yang terjatuh, cowok yang menabraknya juga berjongkok dengan maksud yang sama, tangan mereka bersentuhan. Mata pun saling bertatapan, Wendie menatap terkesima ke muka cowok ganteng yang berjongkok di depannya. kenapa jadi dialog sinetron?!

Hati yang berbunga
Pada pandangan pertama
Oh Tuhan tolonglah
Aku cinta, aku cinta dia...

"restoran! gue kira siapa, jalan pake mata dong." cowok tersebut segera berdiri dan ngamuk sambil sewot

"enak aja restoran! lu tuh yang jalan pake mata, gue sih pake kaki." balas Wendie tak kalah sewot

"bused dah ini berdua berantem terus setiap hari, kapan akurnya?" protes Kiko sambil membantu Wendie membereskan buku-buku yang terjatuh di lantai.

Divo. ya, Divo nama cowok itu. tetangga sekaligus musuh bebuyutan Wendie. Gaada yang namanya akur dalam kamus mereka, setiap hari kalau nggak berantem ya diem-dieman. Walaupun hobi si Divo ini makan, badannya kurus kering.

Karena bel telah berbunyi mereka bertiga bergegas masuk ke dalam kelas, pelajaran pertama adalah pelajarannya busuk. Alias, Bu Sukma, guru yang killer abis.

"Kalau dijabarin pakai rumus sih jadinya C6H12o6 + o2 = H2o + Co2 + energi"

Nah, yang ini Hans, sang profesor. Otaknya sebelas duabelas lah sama Einstein, super hero Wendie waktu lagi ulangan deh pokoknya. Teman sebangku sekaligus sahabat Wendie, terlebih saat dikasih contekan.

"Wendie! lama banget kamu datengnya, sebentar lagi Bu Sukma masuk loh." panggil Hans.

"iya, tadi ada sedikit kecelakaan." Wendie melirik Divo sambil memasang muka ngeledek.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat (tumben cepet..) jam dinding menunjukkan pukul 12.05, keadaan yang sangat tidak memungkinkan untuk bertahan duduk bagi para murid yang berperut lapar. Seperti biasa, guru mengambil beberapa menit waktu istirahat.

"Bu, lama banget sih. Saya kan hungry!" protes seorang murid dengan perut berisi cacing teriak-teriak

"Ibu juga hungry kali" jawab sang guru

"Ibu hungry? saya Henry, hehe"

Kalau yang tadi namanya Hans, ini Henry. Mereka berdua saudara kembar sejak lahir dan bermuka mirip, tapi sifat, perilaku, dan otak mereka jauh berbeda. Henry ini anak paling bandel seseantro kelas. Tak dapat dipungkiri, hobinya adalah ngerjain guru.

Busuk jengkel, semua murid langsung dpersilahkan keluar kelas. Wendie dan Kiko ikut terseret arus anak-anak lapar yang berhamburan keluar, sampailah mereka di kantin.

"Bused dah si Busuk, nyita waktu kita lama banget." protes Kiko

"emm, iya iya bener" Wendie sibuk melahap semangkuk bakso dan segelas es cincau segar dengan nikmat.

"halo teman-temanku tercinta!!" sapa Henry sambil menggebrak meja.

"spada?" Divo juga pengen gebrak meja tapi keburu dihalau Wendie.

"jangan ah, entar bakso gue tumpah semua." sahut Wendie sambil sibuk mengunyah

"hmm, jadi gini nih. Kik, Wen. ceritanya gue sama Divo mau pinjem duit nih." Kata Divo akhirnya

"ceritanya doang kan? yaudah sana pergi." jawab Wendie super sewot

Setelah insiden tawar menawar yang panjang akhirnya cowok-cowok pengganggu tadi, plus Hans mendapat uang lima belas ribu dari si baik hati Kiko.

Begitulah sebagian dari kejadian-kejadian seru yang terjadi di SMP kasih mulia, sekolah gue. Tutup Wendie sambil mengetikkan beberapa kata curhatan terakhir dalam blognya malam itu. Wendie menutup laptop kemudian berbaring dengan maksud untuk tidur, tetapi belum sempat ia menutup mata terdengar suara musik dari rumah sebelah.

To be continued

lagi gaada ide, entar gue lanjutin hahaha

Saat Nanti

Saat aku tua nanti,
Jangan pernah menyesal untuk membantuku
Jangan pernah bosan menjawab segala pertanyaanku
Dengarkanlah semua ocehan yang keluar dari bibirku
Bersihkanlah bajuku ketika aku mulai menumpahkan makanan

Karena dulu saat kau kecil
Aku selalu membantumu melakukan segalanya
Ikhlas tanpa keberatan, untuk anakku tersayang
Kujawab semua pertanyaan yang kau lontarkan
Walau terkadang pertanyaanmu tidak masuk akal
Setiap malam aku terbangun untuk menenangkan tangismu
Menyuapimu setiap hari karena kamu belum bisa makan sendiri
Semuanya kulakukan, untuk anakku tersayang

ku lakukan semua itu tanpa menuntut balas
Aku hanya ingin merasakan perhatian darimu
Saat yang dapat kulakukan hanyalah berbaring lemas
Setelah bertahun-tahun bekerja keras
Untuk membesarkanmu.

Kau ku masakkan makanan enak setiap hari
Tolong bantu aku untuk mengisi perutku
Kau ku ajarkan berjalan dengan sabar
Walau kau selalu terjatuh dan patah semangat
Tolong papah aku ketika kakiku tak mampu lagi berjalan.

Karena roda kehidupan akan terus berputar...

Let Me Believe in Falling Star

Kemaren gue disuruh bikin cerpen sama temen bule gue, terus IN ENGLISH katanya --" abis itu dia blg lg ke gue, romantic one! ajib, temen2 lain yang dia kasih tantangan ga dikasih tema2an padahal -__-

In me, there’s heart. In heart there’s affection, in affection there’s love, and in love there’s hope. They are all for you, even you’re not created for me please let me to love you and engrave your name in my heart forever.

Tonight is the night that I will fall for you over again… I was standing at my balcony alone, accompanied by my ipod shuffle. While this song floated beautifully to my mind. Wait, I think I saw something, a shiny little dot passed in front of my eyes. A shining star!

“Make a wish” whispered the heart.

“God, please sent me my Romeo that can make my heart feels different”

Yeah, I never had a boyfriend before. I’m not a boyish girl, or even a lesbian. I just never find a boy that can make my heart pounds faster, as a teenager I also wanted to have some love experience like all my friends have.

My phone vibrated hardly. It showed a text from my evil like friend, Jade. She wanted to met me in park now, and so I grabbed my jacket and rode my bike to the park she meant.

“Clementine, don’t you want to have a boyfriend?” she started the conversation.

“It’s not your business isn’t it?.” What does she meant by asking me this?

“Relax Clementine, I’m just asking you to take my challenge. I’m challenging to find a boyfriend by one month.”

“well, I don’t think that this thing is important. Not even near.”

“oh, then you’re afraid.” She tried to make me mad.

“I’m not afraid of anything! Ok, I take your challenge”

“good luck in finding your Romeo then” she smirked, evilly while walking home

And so I’m there, standing at the park, thinking. “why I’m so stupid? How could I found someone that wants to be my boyfriend?” because if I couldn't accomplished this mission Jade will be very happy that she could mock me everyday.

I think and think a whole night, a whole morning. And poof! Unconsciously I’m walking toward my class.

“Hey, I had just rent a cool video game last night. Want to play it at my home?” showed Anne, my classmate.
And at that time, a charming boy walked toward me and Anne.

“Morning girls, can I know where is “x” class?” he asked.

“that’s also our class. Just go straight from here and you will find it.” I answered with no intention.

“Oh, I see. Thanks! And oh, by the way my name is Anthony”

At this time I’m like, uh? His name? Who cares..

That was the first time I see him, at first I didn’t even saw anything good in him. But as the time goes by…

“Let’s go to the canteen dude!”

“hey, we are in the same group again! *high five*”

We are best friends now. But for me, he’s not only my best friend, he’s someone special. Or in the other way he can be called as “my first love”

It had been one month from the day I met Jade in the park, and this day is the day I have to shown her that I can also have a boyfriend. So, I decided to tell Anthony about my feeling.

“Clementine!”

Oh man, that devil comes out..

“uh, hey Jade”

“You didn’t forget our deal right? Already have a boyfriend?” I remembered, but damn she also -__-

“Of course I remember, I will have a boyfriend in fifteen minutes. Wait for me here”

Then, I walked away and called Anthony. I felt my heart pounded really fast, but I couldn’t go back and mess up all my plan. 

So that words flown from my mouth...

But like what I’m afraid of, he said that he couldn’t accept me. Instantly I cried, my heart broke for the first time. This is not about my deal with Jade, what the hell with that, it’s not important at all. But this is about my heart, I’m in love and broken for the first time, in the same time.

In frustration I ran to Jade, I didn't know why I’m doing that. My legs just lead me back to her, and my brain said “get back to Jade, play fairly.”

“Jade, you can mock me whenever you want because..”

“She have a boyfriend, I’m his boyfriend”

You will not believe it guys, that’s Anthony at my back. Saying that he’s my boyfriend?

I couldn’t move, I felt like turning to ice. It’s so unbelievable!

“ck” Jade turned around and walked away, at least she would not mock me again

Anthony stood beside me and explained all the things, he had a girlfriend in Japan and they are going to engage in two months. Anthony have to get back to Japan tomorrow morning and maybe we will never meet again, he felt sorry and want to make me happy for the last time. And at last I was still denied.

It’s better to lose someone than never lose at all, I haven’t found my real Romeo but I have felt how it feels when people fall in love. And the important point is, I have a first love. Although it is an unrequited love, and as people said, first love is hard to forget. The fact is I will never forget him, I will let his name engrave forever in my heart.

So, should I believe at the falling star?